Pena
Bukan sengaja aku biarkan tempat ini mengusang. Namun jiwa yang dulu gersang mendadak disirami oleh hujan yang tiada habisnya. Dari titik satu ke yang lain, terlalu banyak makna yang diterima sehingga tak jarang tak sempat menuliskannya.
Mereka hanya singgah di akal secara sederhana. Masuk memenuhi angan dan pikiran, lalu hati membenarkannya begitu saja. Hasrat untuk mengabadikannya selalu ada dalam dada. Namun, kembali teringat pepatah arab lama,
“ilmu yang berharga untuk dimiliki, pantaslah jika dimiliki dengan hati”
Sejenak aku seperti telah mencapai saturasi. Lelah sudah aku mencari-cari celah, antara akal terbatas dan wahyu tak terbantah, dalam upaya diri mencari kebenaran yang sejati. Tanda demi tanda yang kian lama kian jelas terbaca seolah tak bisa dibantah lagi dengan kata-kata dan logika. Semua hilang tak lagi ada batas antara rasa-kata satu dengan yang lainnya.
Comments
Post a Comment